Mencapai Ketenangan Dalam Berdzikir

Ketenangan berasal dari kestabilan. Dan kestabilan yang sejati muncul dari kekosongan.
Dalam kekosongan, tidak ada gerakan. Tidak ada niat. Tidak ada tujuan. Hanya ada hening. Seperti duduk di ruang kosong, sendirian, tanpa teman bicara, tanpa smartphone, tanpa aktivitas apa pun.
Pikiran juga bekerja seperti itu. Semakin banyak pertanyaan yang muncul, semakin banyak pula jawaban dan pertanyaan turunan. Pikiran sibuk. Terus bergerak. Terus berpikir. Hingga tanpa sadar masuk dalam pusaran tanpa ujung.
Padahal, hakikat ketenangan adalah kekosongan pikiran. Tidak ada aktivitas mental. Tidak ada arus berpikir yang deras. Hening.
Pikiran ini luar biasa. Ia bisa bertanya apa saja, tanpa batas. Semakin dalam pertanyaan, semakin dalam juga jawabannya. Dan biasanya, muncul lagi pertanyaan baru dari jawaban itu. Lalu kita tenggelam. Kita pikir sedang mencari kebenaran. Padahal hanya tersesat dalam lingkaran pikiran sendiri.
Satu cara untuk menenangkan pikiran adalah dengan mengarahkannya pada satu titik. Salah satunya adalah dengan mengulang mantra. Yaitu kata atau kalimat yang diulang terus-menerus, baik dengan suara atau dalam hati. Dalam Islam, kita menyebutnya dzikir. Bisa berupa asma Allah, atau ayat-ayat dalam Al-Qur’an.
Saat kita mulai fokus pada satu mantra, pikiran mulai diam. Hanya ada satu suara di dalam. Satu kata. Satu makna. Dan saat itu, aliran energi mulai terasa. Hati jadi sejuk. Napas jadi tenang. Tubuh mulai memproduksi hormon-hormon yang menenangkan.
Kekacauan dalam pikiran terjadi karena terlalu banyak aktivitas yang tak terarah. Pikiran menjadi seperti singa liar. Siap menerkam siapa saja. Atau seperti rumput liar yang tumbuh ke mana-mana. Tak ada aturan. Tak ada tujuan.
Saya tahu, tidak mudah menjinakkan pikiran. Terlalu liar. Terlalu cepat. Tapi saya belajar satu hal penting: saya bisa memilih pikiran mana yang ingin saya ikuti. Saya bisa memilih arah fokus saya.
Setiap manusia punya kuasa itu. Sejak lahir. Kuasa untuk memilih. Kesadaran untuk menentukan.
Bayangkan kita sedang berdiri di tengah persimpangan besar. Kendaraan lalu-lalang di segala arah. Kita bisa memilih mau ke mana. Ke gunung. Ke kota. Ke pantai. Semuanya terbuka. Dan pilihan ada di tangan kita. Begitu juga dengan pikiran. Kita yang menentukan arah geraknya.
Memahami cara kerja pikiran sangat indah. Tapi lebih indah lagi saat kita bisa melampauinya. Saat kita masuk ke dalam ketenangan yang hakiki. Dan menurut saya, ketenangan itu bisa ditemukan dalam dzikir.
Ada tiga level dalam berdzikir:
- Dzikir dengan mulut
Mengucapkan dzikir dengan lisan. Ada suara. Ada gerakan bibir.
- Dzikir dengan mulut
- Dzikir dengan hati
Tidak diucapkan. Hanya dilafalkan dalam hati. Lebih sunyi.
- Dzikir dengan hati
- Dzikir dengan sadar
Tidak ada lagi ucapan. Tidak ada suara dalam hati. Hanya ada kehadiran penuh. Melihat dengan kesadaran. Tidak berpikir. Tidak menganalisis. Hanya menyaksikan.
- Dzikir dengan sadar
Dzikir yang paling dalam adalah dzikir dengan sadar. Di sana tidak ada aktivitas apa pun. Tidak fisik. Tidak mental. Hanya diam. Hanya hadir. Dan di situlah ketenangan hakiki bisa ditemukan.

